MalangRaya

Portal Berita

Geger Geden, Gangster HighTech Korea Utara Sikat Rp 114 Triliun Aset Kripto Binance dalam 20 Menit

MALANGRAYA – Pasar kripto global digoncang aksi peretasan terbesar dalam sejarah aset digital. Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, menjadi korban pencurian dana sebesar 6,3 miliar dollar AS (Rp 114 triliun).

Co-chief Executive Binance Richard Teng memastikan, seluruh kerugian pengguna akan ditanggung secara penuh melalui dana cadangan Secure Asset Fund for Users serta sumber daya internal perusahaan. Secure Asset Fund for Users sendiri merupakan sebuah cadangan bitcoin senilai 1 miliar dollar AS (Rp 18 triliun) yang dirancang khusus untuk melindungi nasabah. Meski demikian, aksi peretasan ini langsung memicu gejolak di pasar. Nilai kripto merosot pada 30 Oktober dan total nilai pasar stablecoin mengalami penurunan.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa para investor mulai menarik dana mereka dari aset digital. Baca juga: Binance Sebut Rp 114 Triliun Aset Kripto Raib, Jadi Insiden Terbesar Sepanjang Sejarah Ratusan Perusahaan AI Bakal Bangkrut akibat Utang Artikel Kompas.id Ratusan Perusahaan AI Bakal Bangkrut akibat Utang Pembajakan sistem dalam 20 menit Sebagian besar aksi pencurian ini berlangsung sangat cepat, yakni hanya sekitar 20 menit, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (30/10/2026). Demikian disampaikan Kompas.com.

Berdasarkan catatan blockchain, pergerakan dana mencurigakan mulai terdeteksi tak lama pada Kamis (29/10/2026) setelah pukul 20.00 GMT atau Jumat pukul 03.00 WIB.

Pihak Binance awalnya menduga insiden ini disebabkan oleh perangkat laptop yang terkompromi. Namun, penyelidikan lebih lanjut mengungkapkan fakta lain. “Investigasi lanjutan kami telah menemukan titik-titik peretasan tambahan,” tulis pihak Binance dalam pernyataan resminya di platform X, tanpa merinci lebih lanjut.

Perusahaan analisis blockchain asal AS, TRM Labs, mengungkapkan bahwa para peretas berhasil membobol signing infrastructure milik Binance yang berfungsi mengotorisasi transaksi. Hal ini memungkinkan peretas menerbitkan instruksi untuk menguras dompet aset Binance. “Dalam bahasa sederhana, penyerang mungkin tidak mencuri kunci brankas, melainkan membajak sistem yang memerintahkan brankas untuk mengeluarkan uang,” terang Joshua Chu, pengacara asal Hong Kong yang biasa menangani kasus-kasus kripto.

Binance ungkap penyebab awal peretasan kripto terbesar, bermula dari Laptop karyawan mengarah ke peretas Korea Utara hingga saat ini, Richard Teng menyatakan bahwa investigasi internal Binance belum berhasil mengidentifikasi identitas pasti para pelaku. Kendati demikian, sejumlah perusahaan analisis blockchain asal AS menilai bahwa pola serangan ini memiliki kemiripan kuat dengan operasi siber yang sebelumnya dikaitkan dengan kelompok peretas Korea Utara.

TRM Labs menyampaikan, pola peretasan Binance sangat mirip dengan serangan terhadap bursa kripto Bybit pada 2025, yang saat itu telah diidentifikasi oleh FBI sebagai ulah kelompok peretas Korea Utara. TRM Labs mengindikasikan keyakinan yang sangat tinggi bahwa kelompok yang sama berada di balik peretasan Binance kali ini.

Sementara itu, firma analisis Chainalysis menemukan bahwa dana yang dicuri dari Binance mulai dicampur dengan hasil pencurian aset dari bursa Bitget yang terjadi pada September. Di sisi lain, perwakilan misi Korea Utara di Jeneva maupun kedutaan besarnya di China belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang diajukan.

Negara tersebut memang secara rutin membantah keterlibatan dalam kejahatan siber maupun pencurian mata uang kripto. Baca juga: Ini Langkah Binance Usai Dibobol Rp 114 Triliun Nasib dana Rp 114 triliun Setelah berhasil memindahkan dana dari dompet Binance, para peretas bergerak cepat untuk mengamankan hasil curian dari jangkauan mitra Binance dan penerbit stablecoin. Sekitar separuh dari total aset yang dicuri merupakan stablecoin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *